Persaingan DPK Makin Ketat: Mandiri Teratas, Para Raksasa Bank Lain Gaspol Digital!
Di tengah ketatnya persaingan industri perbankan nasional, Dana Pihak Ketiga (DPK) kembali menjadi medan utama pertarungan strategi para bank raksasa. Data kuartal III/2025 menunjukkan lima bank besar — Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, dan BTN — mencatat pertumbuhan DPK yang solid, didorong oleh digitalisasi dan efisiensi pendanaan.
Mandiri Catat DPK Terbesar di Indonesia
Bank Mandiri menegaskan dominasinya sebagai bank dengan DPK terbesar di Indonesia. Hingga akhir September 2025, Mandiri mencatat DPK sebesar Rp1.884 triliun, tumbuh 13% year-on-year (YoY).
“Komposisi dana murah (CASA) tetap mendominasi dengan porsi 69,3%, sejalan dengan strategi menjaga efisiensi biaya dana,” ungkap Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri.
Ia mengatakan, pendorong utama pertumbuhan tersebut datang dari ekosistem digital seperti Livin’ by Mandiri, Livin’ Merchant, dan Kopra by Mandiri. Aplikasi superapp Livin’ kini telah menjaring 35,1 juta pengguna, naik 27% YoY, dengan nilai transaksi menembus Rp3.220 triliun.
BRI Tumbuh Solid dengan DPK Naik 8,2%
Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga mencatatkan kinerja yang solid. Perseroan yang dipimpin Hery Gunardi ini membukukan laba Rp41,2 triliun pada kuartal III/2025, dengan total aset naik 8,2% menjadi Rp2.123,4 triliun.
DPK BRI tumbuh 8,2% YoY, mencapai Rp1.474,8 triliun. Pertumbuhan ini menegaskan posisi BRI sebagai pemimpin di segmen mikro dan UMKM, sekaligus menunjukkan kemampuan bank pelat merah tersebut menjaga likuiditas di tengah tren kenaikan suku bunga global.
BCA: CASA Tetap Tak Tergoyahkan
Jika berbicara efisiensi dana, Bank Central Asia (BCA) masih tak tertandingi. Dengan total DPK mencapai Rp999 triliun, tumbuh 7,0% YoY, BCA mempertahankan rasio CASA tertinggi di industri, yakni 83,8%.
“CASA tetap menjadi kontributor utama pendanaan BCA,” ujar Hendra Lembong, Direktur BCA. Pertumbuhan 9,1% YoY di dana murah menegaskan kekuatan BCA dalam menjaga kepercayaan nasabah dan stabilitas biaya dana dua faktor kunci di tengah kompetisi digital banking yang semakin agresif.
BNI: Lompatan Digital Dorong DPK Rp934,3 Triliun
Di bawah kepemimpinan Putrama Wahju Setyawan, BNI mencatat pertumbuhan DPK yang impresif, naik 21,4% YoY menjadi Rp934,3 triliun. Dana murah (CASA) juga melonjak 13,3% menjadi Rp613,4 triliun.
Ia menyebut digitalisasi menjadi motor utama transformasi BNI. Aplikasi wondr by BNI telah menjaring 10,5 juta pengguna, sementara BNIdirect mencatat transaksi senilai Rp8.080 triliun, naik 26,7%.
Kontribusi fee-based income digital kini mencapai 30% dari total pendapatan komisi BNI — menandai pergeseran strategis dari pendapatan berbasis bunga ke pendapatan berbasis layanan.
BTN: Lompatan di Atas Rata-Rata Industri
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) menunjukkan performa yang melampaui rata-rata industri. Di bawah komando Nixon LP Napitupulu, DPK BTN tumbuh 16% YoY, mencapai Rp429,92 triliun atau melampaui pertumbuhan industri sebesar 11,18%.
Ia mengatakan, pertumbuhan ini ditopang kenaikan deposito ritel berbiaya rendah dan peningkatan CASA yang kini hampir mencapai separuh total DPK. BTN juga mencatat laba bersih Rp2,3 triliun, tumbuh 10,6% YoY, seiring transformasi digital dan fokus pembiayaan perumahan.
“Transformasi yang kami jalankan terbukti membawa dampak positif terhadap kinerja bisnis perseroan,” ujar Nixon di Jakarta, 23 Oktober 2025. Dikutip dari swa.co.id
