Rupiah Melemah ke Rp17.349 Usai FOMC April 2026, Ini Penyebabnya
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (30/4/2026) pagi. Mata uang Garuda merosot 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp17.349 per dolar AS, menyusul sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati pasca pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC). Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebutkan bahwa pelemahan ini sejalan dengan tren kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dan Surat Berharga Negara (SBN) akibat sentimen global yang memanas.
Dalam pertemuan FOMC April 2026, Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada kisaran 3,50-3,75 persen. Meskipun suku bunga tetap, pasar menangkap sinyal hawkish lantaran adanya perbedaan pendapat (dissenting voices) di internal pejabat The Fed serta pernyataan tegas Ketua The Fed, Jerome Powell, mengenai pemantauan risiko ekonomi global. Hal ini memicu penguatan indeks dolar AS secara luas dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Selain faktor kebijakan moneter AS, tekanan terhadap kurs rupiah hari ini juga dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi domestik, sehingga investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman (safe haven). Dengan dinamika tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.275 hingga Rp17.400 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan pekan ini. Dikutip dari Antaranews.com
