Dukung Daya Beli, Pelabuhan Tanjung Priok Tahan Kenaikan Tarif di Tengah Lonjakan BBM
JAKARTA — Manajemen PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) memastikan belum melakukan penyesuaian tarif layanan pelabuhan meskipun harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mengalami kenaikan. Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PTP, Dwi Rahmad Toto Sugiarto, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan kajian mendalam terkait dampak lonjakan biaya operasional terhadap kinerja korporasi. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas arus logistik nasional agar tetap berjalan normal tanpa membebani pelaku usaha di tengah dinamika harga energi global.
Sebagai solusi jangka panjang menghadapi kenaikan biaya energi, Pelabuhan Tanjung Priok mempercepat program elektrifikasi alat operasional guna meningkatkan efisiensi. Saat ini, mayoritas peralatan bongkar muat seperti crane telah dialihkan dari bahan bakar solar ke tenaga listrik, di mana tujuh dari sembilan unit yang tersedia sudah terintegrasi dengan sistem elektrik. Transformasi menuju Green Port ini tidak hanya bertujuan menekan biaya operasional secara signifikan, tetapi juga menjadi komitmen perusahaan dalam mengurangi emisi gas buang di area pelabuhan.
Merespons kondisi tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI, Achmad, mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan distribusi BBM agar tidak terjadi kelangkaan yang dapat memicu efek berantai pada harga kebutuhan pokok. Ia menekankan pentingnya kebijakan antisipatif untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional dari gejolak sosial. Dengan adanya sinergi antara efisiensi di sektor pelabuhan dan pengawasan ketat dari pemerintah, diharapkan dampak kenaikan harga BBM dapat terkendali tanpa mengganggu kelancaran distribusi barang di Indonesia. Dikutip dari RRI.co.id
