Bahaya Terlalu Banyak Takjil: Ahli Gizi Ingatkan Risiko Defisit Protein Selama Ramadhan
Jakarta – Ahli gizi Rita Ramayulis mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan konsumsi takjil sebagai menu utama saat waktu berbuka puasa tiba. Hal ini dikarenakan sebagian besar jenis takjil yang populer di masyarakat lebih banyak mengandung karbohidrat dan lemak daripada protein serta serat. Jika seseorang merasa terlalu kenyang setelah mengonsumsi camilan manis atau gorengan maka mereka berisiko melewatkan waktu makan besar yang sebenarnya menjadi sumber gizi paling utama bagi tubuh selama bulan ramadhan.
Kekurangan asupan protein selama menjalankan ibadah puasa dapat berdampak negatif pada kesehatan seperti menurunnya sistem imun dan berkurangnya massa otot secara signifikan. Padahal tubuh sangat membutuhkan asupan nutrisi lengkap untuk memperbaiki sel-sel yang rusak dan menjaga kebugaran fisik setelah beraktivitas seharian tanpa makan dan minum. Oleh karena itu masyarakat perlu lebih bijak dalam mengatur porsi makan agar tidak sekadar memenuhi rasa lapar sesaat dengan makanan yang memiliki nilai gizi rendah.
Pola berbuka puasa yang sehat sebaiknya diawali dengan air putih dan buah-buahan untuk menormalkan kembali kadar gula darah secara perlahan dan alami. Konsumsi takjil tetap diperbolehkan asalkan dalam jumlah yang sangat terbatas dan tetap melanjutkan dengan makan besar yang memiliki komposisi gizi seimbang. Dengan menjaga asupan protein dan mikronutrien lainnya secara konsisten tubuh akan tetap memiliki energi yang stabil dan terhindar dari rasa lemas berlebihan saat menjalani puasa. Dikutip dari Antaranews.com
