Mencari Cara Lebih Dekat dengan Wajib Pajak, Jasa Raharja Gandeng Desa Nyuhtebel
Karangasem — Upaya meningkatkan kepatuhan pembayaran Sumbangan Wajib (SW) terus mendorong lahirnya berbagai pendekatan baru di tengah masyarakat. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital hingga tingkat banjar yang dinilai dapat membuka ruang baru dalam menjangkau masyarakat.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan Kepala PT Jasa Raharja (Persero) Wilayah Bali Abdillah, S.Sos., M.Si., bersama Kepala Sub Bagian Sumbangan Wajib dan Humas Latifa Isnainiah Masyithoh, S.T., M.Sc. serta Kepala Sub Bagian Keuangan, Akuntansi dan ESG Wahyu Dwi Astowo, S.E., bersama Perbekel Desa Nyuhtebel Drs. I Ketut Suadnya, M.M.
Pertemuan tersebut membahas rencana replikasi peningkatan collection rate Sumbangan Wajib (SW) melalui aplikasi Banjar SmartHub, sebagai salah satu pendekatan berbasis digital yang dapat menjangkau masyarakat melalui lingkungan komunitas terdekat.
Konsep tersebut menempatkan banjar sebagai salah satu ruang yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan dukungan aplikasi, informasi dan kebutuhan terkait kewajiban masyarakat dapat disampaikan melalui kanal yang lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari.
Bagi Jasa Raharja, pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu peluang untuk memperluas jangkauan komunikasi sekaligus mendukung upaya peningkatan collection rate. Replikasi Banjar SmartHub diharapkan dapat menjadi alternatif pendekatan yang dapat diterapkan pada wilayah lain dengan menyesuaikan karakteristik masyarakat setempat.
Abdillah menyampaikan bahwa transformasi digital tidak selalu harus dimulai dari sistem yang kompleks. Justru, pemanfaatan teknologi yang mampu terhubung dengan komunitas dan kebutuhan masyarakat dapat memberikan ruang yang lebih luas dalam mendukung pelaksanaan tugas.
“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana teknologi bisa semakin dekat dengan masyarakat. Banjar merupakan bagian yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bali, sehingga ketika ada sebuah platform yang dapat menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan informasi yang diperlukan, tentu ini menjadi peluang yang menarik untuk direplikasi,” ujar Abdillah.
Menurutnya, pengembangan pendekatan tersebut juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa dan unsur masyarakat. Dengan adanya dukungan dari tingkat desa, implementasi inovasi dapat disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik wilayah masing-masing.
“Replikasi bukan berarti sekadar menyalin sebuah sistem, tetapi melihat bagaimana konsep yang sudah berjalan dapat diterapkan di tempat lain dengan menyesuaikan kebutuhan. Kami berharap Banjar SmartHub dapat menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan digital berbasis komunitas dapat mendukung peningkatan collection rate SW,” tambah Abdillah.
Melalui kolaborasi bersama Perbekel Nyuhtebel, Jasa Raharja terus melihat peluang pengembangan inovasi yang dapat mempertemukan teknologi, komunitas, dan kepatuhan masyarakat dalam satu ekosistem pelayanan yang lebih dekat dan mudah dijangkau.
