Rupiah Melemah ke Rp16.736 per Dolar AS: Apa Penyebabnya?
Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS, ditutup melemah 0,17 persen atau 29 poin menjadi Rp16.736 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg.
Penguatan dolar AS dipicu oleh sentimen bahwa The Fed kemungkinan besar tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. “Pelaku pasar semakin yakin The Fed tidak akan melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat,” ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang, Senin (17/11/2025).
Sinyal tersebut disampaikan oleh sejumlah pejabat The Fed yang menekankan bahwa inflasi masih tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja tetap kuat. Para investor kini menunggu pidato pejabat The Fed, termasuk John Williams, Philip Jefferson, Neel Kashkari, dan Christopher Waller, yang akan disampaikan hari ini waktu setempat.
Selain itu, data tenaga kerja kemungkinan akan dirilis Kamis mendatang, termasuk laporan penggajian non-pertanian bulan September 2025, setelah pembukaan kembali pemerintah federal.
Di pasar global, serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak. Meski demikian, beberapa laporan menyebutkan kapal-kapal tanker telah memuat kembali minyak mentah di pelabuhan.
Sementara itu, di dalam negeri, pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang dijadwalkan Rabu lusa. Fokus utama adalah kebijakan BI Rate, mengingat pada RDG bulan Oktober, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa peluang penurunan BI Rate masih terbuka, dengan keputusan yang mempertimbangkan laju inflasi dan potensi pertumbuhan ekonomi. “BI juga akan mencermati efektivitas transmisi kebijakan moneter longgar, terutama pada penyaluran kredit, serta mengamati stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” jelas Gubernur Perry. Dikutip dari RRI.co.id
